Perlukah training olah air (TOA)?
Faktanya, banyak yang belum paham kualitas air minum. Air jernih dikira sudah bersih, dikira aman bagi kesehatan. Padahal jernih hanyalah salah satu aspek dari puluhan aspek kualitas air minum. Bahkan para pebisnis air minum kemasan dan depot air minum isi ulang pun masih banyak yang mengira hal serupa itu. Begitu pula karyawannya, belum banyak memahami perihal kualitas air dan hanya mampu mengoperasikan alatnya saja, sekadar menekan tombol on-off. Kapan alat itu harus diperbaiki, kapan harus diganti belum banyak diperhatikan.
Hal serupa terjadi di PDAM. Banyak yang kurang peduli pada proses pengolahan airnya. Mereka hanya bekerja dan bekerja setiap hari di bagian administrasi. Yang di bagian operasi instalasi memang tahu urutan proses pengolahan airnya, tahu alur-alur bak pengolahnya tetapi belum banyak yang memahami prosesnya. Belum paham "dalemannya". Kelompok inilah yang perlu diberi pencerahan dan motivasi agar makin semangat bekerja sekaligus paham proses-operasinya.
Di sektor air limbah juga demikian. Tak sedikit yang mengira unit pengolah air limbah itu seperti mesin sulap yang dalam sekejap saja langsung menghasilkan air olahan yang bebas pencemar. Faktanya tentu tak semudah itu. Unit pengolah hanyalah berupa bak-bak yang ukurannya dirancang sesuai dengan kriteria desain, tetapi belum tentu proses pengolahannya mencapai taraf optimal. Ini mungkin saja terjadi lantaran salah dalam pendekatan desain dan salah dalam operasi-rawatnya. Apalagi kalau unit pengolahnya berupa pengolah biologi (biological treatment atau bioreaktor), kesulitan operasinya lebih banyak lagi ketimbang unit pengolah fisika dan kimia (fisikokimia).
Artinya, ada strategi khusus yang mesti dijalankan, termasuk rutin berkala memantau kualitas airnya, terutama kualitas influen (input, masukan) dan efluennya (output, keluaran) di setiap unit pengolah dan di instalasi secara keseluruhan.
0 comments:
Post a Comment